kata seorang pakar, contact lens dan kecantikan itu sama, tergantung….tergantung siapa yg ngeliat kakakakakaka…… mungkin beberapa diantara kalian pernah dengar istilah itu: just like contact lens, beauty is in the eye of the beholder. tapi memang sih ada nilai2 yang ‘dianggap’ universal untuk kecantikan ini. setelah gw pikir2 tingkat universalitas ini ternyata berbasis ras dan lokasi. kenapa gw berkesimpulan begitu karena tiap2 budaya memiliki nilai universalitasnya sendiri. contoh kalo orang bule lebih suka kulit yang sedikit gelap, istilahnya ‘tan‘ makanya mereka suka berjemur atau malah ke tanning saloon biar kulit mereka sedikit gelap….sementara asia cenderung lebih suka kulit yang terang…..itu baru masalah kulit, kalo di sebuah suku di burma/myanmar cewek yang lehernya semakin panjang kayak jerapah dianggap semakin oke, sementara di afrika ada sebuah suku yang menganggap bibir yang super dower nauzubile sebagai lambang kecantikan, bahkan (maaf) bibirnya sampe selebar piring….kalo orang pemasaran tentu harus ngerti yak coz kalo jualan ponds lightening ke bule kayak-nya kurang hot kan…kata pakar ini namanya marketing ethnography
selain itu tiap hari kita juga dibombardir oleh informasi dari koran, majalah, tv, radio, internet…..yang secara langsung tak langsung ikut membentuk persepsi kita terhadap sesuatu. cool nggak cool-nya sesuatu itu ternyata variabel yang sangat volatile. ahli NLP bilang ‘there’s no reality, only perception’…….. contoh lima tahun lalu kalo elo pake celana kuncup elo akan dianggap aneh, lima tahun lalu kalo elo pake syal ala tentara gurun elo dianggap sedeng, 15 tahun lalu kalo lo pake kawat gigi elo dianggap nerd…tapi sekarang ternyata 3 hal yg baru gw sebut diatas adalah sesuatu yang dianggap cool, setelah gw telisik2 ternyata untuk hal2 diatas, yang berperan besar membuat mereka naik kelas menjadi cool adalah apa yang disebut oleh robert cialdini sebagai social proof principle…..untuk kasus diatas selebriti adalah yang paling berperan. hmmm….mungkin itulah kenapa selebriti banyak didaulat menjadi endorser sebuah produk atau bintang iklan…..selain social proof principle, likable principle juga berperan disini.
ahhhh….by the way kok jadi ngalor ngidul…kakakakakaa…..
eh kemaren gw baca novel DO, yang udah difelemkan, ternyata novelnya jauh lebih keren, bahkan felemnya cenderung ‘lari’ dari novelnya….
anyway makasih buat dek yoan alias dek koniciwa yang udah minjamin novelnya ke ucu dan ucu minjamin ke gw kakakakakakaka….sehingga novelnya bisa di review…..
lo…reviewnya mana…..
kakakakakakakakakaka






0 Responses to “Gak Da Judul”